Artwork

Content provided by Muhajir Project. All podcast content including episodes, graphics, and podcast descriptions are uploaded and provided directly by Muhajir Project or their podcast platform partner. If you believe someone is using your copyrighted work without your permission, you can follow the process outlined here https://ro.player.fm/legal.
Player FM - Aplicație Podcast
Treceți offline cu aplicația Player FM !

Kajian Wanita 158. "CIRI-CIRI SHALAT YANG KHUSYUK" | Kitab Al-Wabilush Shayyib

37:55
 
Distribuie
 

Manage episode 404624155 series 3257572
Content provided by Muhajir Project. All podcast content including episodes, graphics, and podcast descriptions are uploaded and provided directly by Muhajir Project or their podcast platform partner. If you believe someone is using your copyrighted work without your permission, you can follow the process outlined here https://ro.player.fm/legal.

Bismillah, 158. CIRI-CIRI SHALAT YANG KHUSYUK Kajian Wanita Kitab Al-Wabilush Shayyib Pasal: Hadirnya hati saat melaksanakan shalat Perumpamaan orang yang menoleh dalam shalatnya dengan penglihatan maupun hatinya adalah seperti seseorang yang dipanggil oleh penguasa lalu ia diberdirikan di hadapannya, dan ia menemui sang penguasa kemudian mengajaknya bicara. Di sela-sela pembicaraannya dengan penguasa, ia malah menoleh ke kiri dan ke kanan dan hatinya berpaling dari penguasa sehingga ia tidak lagi memahami apa yang dikatakan kepadanya karena hatinya tidak lagi hadir bersamanya. Bagaimana mungkin orang tersebut berbuat seperti itu terhadap penguasa. Bukankah lebih pantas baginya untuk pergi dari sisi penguasa disebabkan karena tidak lagi memperhatikan pembicaraannya? Orang yang shalat tidak sebanding satu sama lainnya, dan yang hadir hatinya menghadap Allah dalam shalatnya sehingga hatinya merasakan keagungan Rabb yang mana ia berdiri di hadapan-Nya, hatinya dipenuhi dengan kebesaran-Nya, tunduk kepada-Nya dan merasa malu kepada Rabb-nya untuk menghadap kepada selain-Nya atau berpaling dari-Nya. Dan (terdapat perbedaan) antara shalat keduanya, sebagaimana perkataan Hassan bin `Athiyyah, "Sesungguhnya dua orang berada dalam satu shalat yang sama, namun perbedaan keutamaan antara keduanya seperti langit dan bumi. Hal itu karena salah satu di antara keduanya menghadap Allah dengan hatinya, sementara yang lainnya lupa dan lalai." Apabila seorang hamba menghadap kepada makhluk semisalnya lalu di antara keduanya terdapat penghalang, maka itu tidak dikatakan menghadap dan mendekatkan diri. Bagaimana keadaannya dengan Sang Pencipta ﷻ? Apabila seorang hamba menghadap kepada Allah, sementara antara ia dan Allah terdapat penghalang berupa syahwat, waswas, jiwa yang senang dengannya dan penuh dengan syahwat, maka bagaimana mungkin hal itu disebut sebagai menghadap kepada Allah, sementara ia diperbudak oleh rasa waswas dan pikiran-pikiran, dan pikirannya itu telah membawanya jauh dari konsentrasi dengan shalat yang ia lakukan? Jika seorang hamba melaksanakan shalat, maka syaithan tidak suka kepadanya karena harnba itu sedang melaksanakan ibadah yang paling agung, paling dekat, paling kasar terhadap syaithan dan sangat keras terhadapnya. Syaithan akan berusaha sekuat tenaga agar hamba ini tidak melaksanakan shalat, bahkan syaithan senantiasa memberikan angan-angan dan menjadikannya lupa. Syaithan juga mengirim kepadanya pasukan berkuda dan pasukan yang berjalan kaki sampai hamba ini memandang remeh perintah shalat dan menggampangkannya lalu pada akhirnya ia meninggalkannya. Apabila syaithan tidak mampu rnempengaruhinya dengan cara ini dan hamba itu tetap melaksanakan shalatnya, maka syaithan akan kembali datang dan membisikkan dalam pikirannya, membuat penghalang antara ia dan hatinya, menjadikan hamba itu ingat dengan apa-apa yang sebenarnya ia tidak ingat sebelum melaksanakan shalat. Bahkan bisa jadi hamba itu lupa terhadap sesuatu atau hajat sehingga ia berputus asa darinya, maka syaithan akan mengingatkannya pada saat shalat agar syaithan menyibukkan hatinya dengan hajatnya itu dan menjauhkannya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang mengerjakan shalat tanpa menghadirkan hatinya maka ia tidak akan memperoleh kesejahteraan dan keberkahan dari-Nya serta kedekatan dengan-Nya. Orang seperti ini tidak akan memperoleh seperti apa yang diperoleh oleh orang yang menghadap kepada Rabb-nya dengan hati yang hadir dalam melaksanakan shalat. Orang seperti ini juga akan keluar dari shalatnya seperti orang yang melaksanakannya dengan kesalahan-kesalahannya, dosa-dosanya dan belum mendapatkan keringanan dari kesalahan dan dosanya dengan shalat yang ia laksanakan karena shalat hanya akan menghapuskan dosa orang yang melaksanakan, hak-haknya, khusyu' dan berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan hati yang hadir.

===

Saksikan Hasil Rekaman
🖥️ Insyaa Allah dapat disaksikan di
https://www.youtube.com/live/kwOxGFhK3ZE?si=TJC6Sp5p4iEihiHX

  continue reading

3191 episoade

Artwork
iconDistribuie
 
Manage episode 404624155 series 3257572
Content provided by Muhajir Project. All podcast content including episodes, graphics, and podcast descriptions are uploaded and provided directly by Muhajir Project or their podcast platform partner. If you believe someone is using your copyrighted work without your permission, you can follow the process outlined here https://ro.player.fm/legal.

Bismillah, 158. CIRI-CIRI SHALAT YANG KHUSYUK Kajian Wanita Kitab Al-Wabilush Shayyib Pasal: Hadirnya hati saat melaksanakan shalat Perumpamaan orang yang menoleh dalam shalatnya dengan penglihatan maupun hatinya adalah seperti seseorang yang dipanggil oleh penguasa lalu ia diberdirikan di hadapannya, dan ia menemui sang penguasa kemudian mengajaknya bicara. Di sela-sela pembicaraannya dengan penguasa, ia malah menoleh ke kiri dan ke kanan dan hatinya berpaling dari penguasa sehingga ia tidak lagi memahami apa yang dikatakan kepadanya karena hatinya tidak lagi hadir bersamanya. Bagaimana mungkin orang tersebut berbuat seperti itu terhadap penguasa. Bukankah lebih pantas baginya untuk pergi dari sisi penguasa disebabkan karena tidak lagi memperhatikan pembicaraannya? Orang yang shalat tidak sebanding satu sama lainnya, dan yang hadir hatinya menghadap Allah dalam shalatnya sehingga hatinya merasakan keagungan Rabb yang mana ia berdiri di hadapan-Nya, hatinya dipenuhi dengan kebesaran-Nya, tunduk kepada-Nya dan merasa malu kepada Rabb-nya untuk menghadap kepada selain-Nya atau berpaling dari-Nya. Dan (terdapat perbedaan) antara shalat keduanya, sebagaimana perkataan Hassan bin `Athiyyah, "Sesungguhnya dua orang berada dalam satu shalat yang sama, namun perbedaan keutamaan antara keduanya seperti langit dan bumi. Hal itu karena salah satu di antara keduanya menghadap Allah dengan hatinya, sementara yang lainnya lupa dan lalai." Apabila seorang hamba menghadap kepada makhluk semisalnya lalu di antara keduanya terdapat penghalang, maka itu tidak dikatakan menghadap dan mendekatkan diri. Bagaimana keadaannya dengan Sang Pencipta ﷻ? Apabila seorang hamba menghadap kepada Allah, sementara antara ia dan Allah terdapat penghalang berupa syahwat, waswas, jiwa yang senang dengannya dan penuh dengan syahwat, maka bagaimana mungkin hal itu disebut sebagai menghadap kepada Allah, sementara ia diperbudak oleh rasa waswas dan pikiran-pikiran, dan pikirannya itu telah membawanya jauh dari konsentrasi dengan shalat yang ia lakukan? Jika seorang hamba melaksanakan shalat, maka syaithan tidak suka kepadanya karena harnba itu sedang melaksanakan ibadah yang paling agung, paling dekat, paling kasar terhadap syaithan dan sangat keras terhadapnya. Syaithan akan berusaha sekuat tenaga agar hamba ini tidak melaksanakan shalat, bahkan syaithan senantiasa memberikan angan-angan dan menjadikannya lupa. Syaithan juga mengirim kepadanya pasukan berkuda dan pasukan yang berjalan kaki sampai hamba ini memandang remeh perintah shalat dan menggampangkannya lalu pada akhirnya ia meninggalkannya. Apabila syaithan tidak mampu rnempengaruhinya dengan cara ini dan hamba itu tetap melaksanakan shalatnya, maka syaithan akan kembali datang dan membisikkan dalam pikirannya, membuat penghalang antara ia dan hatinya, menjadikan hamba itu ingat dengan apa-apa yang sebenarnya ia tidak ingat sebelum melaksanakan shalat. Bahkan bisa jadi hamba itu lupa terhadap sesuatu atau hajat sehingga ia berputus asa darinya, maka syaithan akan mengingatkannya pada saat shalat agar syaithan menyibukkan hatinya dengan hajatnya itu dan menjauhkannya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang mengerjakan shalat tanpa menghadirkan hatinya maka ia tidak akan memperoleh kesejahteraan dan keberkahan dari-Nya serta kedekatan dengan-Nya. Orang seperti ini tidak akan memperoleh seperti apa yang diperoleh oleh orang yang menghadap kepada Rabb-nya dengan hati yang hadir dalam melaksanakan shalat. Orang seperti ini juga akan keluar dari shalatnya seperti orang yang melaksanakannya dengan kesalahan-kesalahannya, dosa-dosanya dan belum mendapatkan keringanan dari kesalahan dan dosanya dengan shalat yang ia laksanakan karena shalat hanya akan menghapuskan dosa orang yang melaksanakan, hak-haknya, khusyu' dan berdiri di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan hati yang hadir.

===

Saksikan Hasil Rekaman
🖥️ Insyaa Allah dapat disaksikan di
https://www.youtube.com/live/kwOxGFhK3ZE?si=TJC6Sp5p4iEihiHX

  continue reading

3191 episoade

Tous les épisodes

×
 
Loading …

Bun venit la Player FM!

Player FM scanează web-ul pentru podcast-uri de înaltă calitate pentru a vă putea bucura acum. Este cea mai bună aplicație pentru podcast și funcționează pe Android, iPhone și pe web. Înscrieți-vă pentru a sincroniza abonamentele pe toate dispozitivele.

 

Ghid rapid de referință